Kelas Ibu Hamil di Puskesmas Jembatan Kembar, Lombok Barat, NTB

Untuk mempercepat pencapaian program MDGs, diperlukan upaya percepatan penurunan kematian ibu dan bayi melalui peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku ibu dan keluarga. Dengan peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku ini diharapkan kesadaran terhadap pentingnya kesehatan selama kehamilan menjadi meningkat. Program yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan untuk mendukung langkah tersebut adalah Kelas Ibu Hamil. Baca Selengkapnya »

Kelas Ibu Hamil di Jembatan Kembar, Kab Lombok Barat, NTB

Untuk mempercepat pencapaian program MDGs, diperlukan upaya percepatan penurunan kematian ibu dan bayi melalui peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku ibu dan keluarga. Dengan peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku ini diharapkan kesadaran terhadap pentingnya kesehatan selama kehamilan menjadi meningkat. Program yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan untuk mendukung langkah tersebut adalah Kelas Ibu Hamil. Baca Selengkapnya »

Peluncuran Program “EMAS”

Dalam upaya mempercepat penurunan AKI dan AKN tersebut, pada tanggal 26 Januari 2012 Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan dr. Ratna Rosita, MPHM telah meluncurkan program Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS). Program EMAS merupakan program hasil kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan lembaga donor USAID, yang bertujuan untuk menurunkan AKI dan AKN di Indonesia sebesar 25%. Untuk mencapai target tersebut, program EMAS akan dilaksanakan di provinsi dan kabupaten dengan jumlah kematian yang besar, yaitu Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan, dimana pada tahun pertama akan dilaksanakan pada 10 kabupaten. Baca Selengkapnya »

Juknis Jampersal 2012 telah terbit

Pada tanggal 27 Desember 2011, Menteri Kesehatan telah menandatangani Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan.

Dengan demikian secara resmi Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan (Juknis Jampersal) Tahun 2012 telah diterbitkan dan kegiatan Jampersal telah siap dilaksanakan per 1 Januari 2012. (file Juknis Jampersal 2012 dapat diunduh pada website ini pada menu Download atau Jampersal). Baca Selengkapnya »

Juknis BOK 2012 Telah Terbit

Pada tanggal 27 Desember 2011, Menteri Kesehatan telah menandatangani Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2556/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Kesehatan. Dengan demikian secara resmi Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Kesehatan (Juknis BOK) Tahun 2012 telah diterbitkan dan kegiatan BOK telah siap dilaksanakan di tahun 2012. (dapat diunduh pada website ini – menu Download).

BOK tahun 2012 tetap diprioritaskan untuk upaya kesehatan promotif dan preventif yang dilakukan oleh Puskesmas dan jaringannya serta Poskesdes dan Posyandu dalam melaksanakan Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan untuk mendukung percepatan pencapaian target MDGs Bidang Kesehatan tahun 2015. Berbagai upaya kesehatan ibu termasuk dalam Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan dan Target MDGs, yaitu MDG 5 (penurunan Angka Kematian Ibu dan peningkatan akses universal kesehatan reproduksi. Baca Selengkapnya »

Refleksi Hari Ibu: Skenario Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu

Setiap kali bangsa Indonesia memperingati Hari Ibu tanggal 22 Desember, tiap kali itu pula mengemuka berbagai permasalahan terkait kaum perempuan, khususnya kaum ibu. Satu hal yang seringkali muncul adalah pembahasan terkait Angka Kematian Ibu.

 

Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia sudah berhasil diturunkan secara signifikan dari 390 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1991 (SDKI 1991) menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI 2007). Sesuai target MDGs, AKI harus diturunkan sampai 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Untuk dapat mencapai target MDGs, diperlukan terobosan dan upaya keras dari seluruh pihak, baik Pemerintah, sektor swasta, maupun masyarakat. Baca Selengkapnya »

Software PWS KIA “Kartini” Akan Terus Dikembangkan

Software PWS KIA “Kartini” terbukti bermanfaat sebagai alat bantu bagi Puskesmas dalam mempermudah proses Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) bidang Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di wilayah kerjanya. Hal tersebut disepakati dalam Pertemuan Review Software PWS KIA “Kartini” yang dilaksanakan di Bekasi pada tanggal 2-4 November 2011. Dengan demikian, ke depan software PWS KIA “Kartini” akan terus dikembangkan dengan mengintegrasikan kebutuhan program terkait kesehatan ibu dan anak.

Pertemuan yang diselenggarakan dengan dukungan Unicef itu diikuti oleh seluruh pengelola program di Direktorat Bina Kesehatan Ibu, dengan menghadirkan narasumber dr. Andy Yusianto dari Subbag Data dan Informasi Setditjen Bina Gizi dan KIA, Adithya Mahendra, ST, MPHM dari Dit Bina Upaya Kesehatan Rujukan, dan Abdullah Faqih, ST dari konsultan IT.

Beberapa hal yang menjadi rencana tindak lanjut demi penyempurnaan software PWS KIA “Kartini” ke depan di antaranya adalah penyamaan persepsi dan definisi operasional beberapa pelayanan KIA, revisi beberapa menu dalam software PWS KIA “Kartini”, dan review buku Pedoman PWS KIA. (wisnu)

Magnesium Sulfat (MgSO4) Untuk Tata Laksana Eklampsia

Eklampsia merupakan onset baru dari aktivitas kejang grandmal dan/atau koma selama kehamilan atau setelah melahirkan pada wanita dengan tanda-tanda atau gejala preeklampsia. Ini biasanya terjadi selama atau setelah 20 minggu kehamilan atau pada periode postpartum.

Eklampsia didahului dengan kondisi preeklampsia. Preeklampsia ditandai dengan meningkatnya tekanan darah pada ibu hamil yang diikuti oleh peningkatan kadar protein di dalam urine. Ibu hamil dengan preeklampsia juga akan mengalami pembengkakan pada kaki dan tangan. Preeklampsia umumnya muncul pada pertengahan umur kehamilan, meskipun pada beberapa kasus ada yang ditemukan pada awal masa kehamilan.

Eklampsia merupakan kondisi lanjutan dari preeklampsia yang tidak teratasi dengan baik. Selain mengalami gejala preeklampsia, pada wanita yang terkena eklampsia juga sering mengalami kejang kejang. Eklampsia dapat menyebabkan koma atau bahkan kematian baik sebelum, saat atau setelah melahirkan.

Eklampsia merupakan komplikasi serius dari kehamilan, dan diperkirakan menyebabkan 10% kematian ibu per tahun di seluruh dunia. Dalam standar tata laksana eklampsia, digunakan antikonvulsan (antikejang) untuk mengontrol bangkitan kejang (fit) awal dan mencegah terjadinya kejang susulan.

Diazepam (valium), fenitoin, dan lytic cocktail telah digunakan untuk menatalaksana eklampsia. Walau demikian, dari berbagai penelitian terbukti bahwa Magnesium sulfat (MgSO4) adalah yang paling efektif untuk tata laksana eklampsia.

Penelitian telah menunjukkan bahwa untuk tata laksana eklampsia, MgSO4 jauh jauh lebih efektif daripada antikonvulsan lainnya, di samping harganya yang relatif lebih murah dan lebih mudah digunakan. Oleh karena itu, MgSO4 direkomendasikan untuk digunakan secara rutin dalam tata laksana eklampsia.

Rujukan:

  1. Duley L, Henderson-Smart D. Magnesium sulphate versus diazepam for eclampsia (Cochrane Review). In: The Coc hrane Library. Issue 2, 2001.Oxford: Update Software.
  2. Duley L, Gulmezoglu AM. Magnesium sulphate versus lytic coctail for eclampsia (Cochrane Review). In: The Cochrane Librar y. Issue 2, 2001.Oxford: Update Software.
  3. Duley L, Henderson-Smart D. Magnesium sulphate versus phenytoin for eclampsia (Cochrane Review). In: The Cochr ane Library. Issue 2, 2001.Oxford: Update Software.

Kewenangan Bidan Sesuai Permenkes Nomor 1464 Tahun 2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan Penyelenggaran Praktik Bidan, kewenangan yang dimiliki bidan meliputi:

  1. Kewenangan normal:
    • Pelayanan kesehatan ibu
    • Pelayanan kesehatan anak
    • Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana
  2. Kewenangan dalam menjalankan program Pemerintah
  3. Kewenangan bidan yang menjalankan praktik di daerah yang tidak memiliki dokter

Baca Selengkapnya »

Ayo Lindungi Ibu Hamil dari Malaria!

Malaria merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan 15 juta kasus dan mengakibatkan 38.000 kematian setiap tahun (SKRT 2001). Hal itu berarti ada 4 kematian setiap jam atau sekitar 100 kematian setiap hari akibat malaria. Baca Selengkapnya »