Peluncuran Program “EMAS”

Dalam upaya mempercepat penurunan AKI dan AKN tersebut, pada tanggal 26 Januari 2012 Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan dr. Ratna Rosita, MPHM telah meluncurkan program Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS). Program EMAS merupakan program hasil kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan lembaga donor USAID, yang bertujuan untuk menurunkan AKI dan AKN di Indonesia sebesar 25%. Untuk mencapai target tersebut, program EMAS akan dilaksanakan di provinsi dan kabupaten dengan jumlah kematian yang besar, yaitu Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan, dimana pada tahun pertama akan dilaksanakan pada 10 kabupaten.

 

Hal tersebut bukan tanpa alasan, karena berdasarkan data Kementerian Kesehatan sekitar 52,6% dari jumlah total kejadian kematian ibu di Indonesia berasal dari enam provinsi tersebut. Demikian pula dengan kematian neonatal, sekitar 58,1% dari jumlah total nasional juga “disumbangkan” oleh keenam provinsi tersebut. Dari hasil analisis, diyakini bahwa percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Neonatal (AKN) di Indonesia akan dapat diakselerasi apabila kematian ibu dan kematian neonatal di enam provinsi tersebut dapat dikurangi secara signifikan.

 

Upaya penurunan AKI dan AKN melalui program EMAS akan dilakukan dengan cara:

  • Meningkatkan kualitas pelayanan emergensi obstetri dan bayi baru lahir minimal di 150 Rumah Sakit (PONEK) dan 300 Puskesmas/Balkesmas (PONED)
  • Memperkuat sistem rujukan yang efisien dan efektif antar Puskesmas dan Rumah Sakit

 

Dalam pelaksanaannya di lapangan, upaya tersebut dilakukan dengan pendekatan “Vanguard”, yaitu:

  • Memilih dan memantapkan sekitar 30 RS dan 60 Puskesmas yang sudah cukup kuat agar berjejaring dan dapat membimbing jaringan Kabupaten yang lain, dan
  • Melibatkan RS/RB swasta untuk memperkuat jejaring sistem rujukan di daerah

 

Pada peluncuran program EMAS yang diawali dengan keynote speech dari Utusan Presiden RI Untuk MDGs Prof dr. Nila Moeloek dan dihadiri oleh perwakilan dari Kemenko Kesra serta para peserta acara yang di antaranya berasal dari provinsi-provinsi lokasi program, Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan mengharapkan agar program ini dapat berjalan dengan sukses dan pada akhirnya nanti benar-benar dapat memberi dampak positif secara nasional dalam percepatan pencapaian target MDGs 4 dan 5.

8 Responses to “Peluncuran Program “EMAS””

  • Nur. Allailiyah says:

    Assalamualaikum ww
    Saya menyambut baik atas peluncuran program “ËMAS” ini, sepintas bila melihat dari cara yang ditempuh salah satunya adalah: Meningkatkan kualitas pelayanan emergensi obstetri dan bayi baru lahir minimal di 150 Rumah Sakit (PONEK) dan 300 Puskesmas/Balkesmas (PONED)
    Puskesmas PONED diharapkan mampu meningkatkakn akses ibu hamil, bersalin dan nifas maupun anak terhadap pelayanan obstetri dan neonatal yang berkualitas. Kenyataan dilapangan pada umumnya kegagalan Puskesmas PONED tidak terletak pada kualitas teknis namun lebih pada lemahnya manajemen yang dalam hal ini salah satunya adalah manajemen sumber daya manusia (SDM).
    Secara teknis telah banyak bidan dan dokter yang dilatih kompetensi yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (TUPOKSI) mereka di Puskesmas PONED, namun apa yang terjadi setelah mereka pulang kembali ke institusi? mereka kurang memiliki motivasi dan komitmen u mengimplementasikan kompetensi mereka. Ada beberapa alasan mengapa demikian yaitu: 1) monitoring dan evaluasi di Puskesmas PONED belum terfokus, 2) kurangnya payung hukum terutama bagi petugas yang mengalami kegaglan dalam intervensi (audit maternal sering dianggap momok).
    salah satu contoh kasus di Kabupaten Bantul pada tabel 3:
    Tabel 3. Signal fuction pada puskesmas PONED di Kabupaten Bantul tahun 2010.
    No Puskesmas Sewon I Pleret Imogiri I Srandakan Piyungan Dlingo I
    1 Parenteral oxytocin √ √ √ √ √ √
    2 Parentral antibiotics √ √ – √ -
    3 Other Parenteral sedatives/ anticonvulsants √ √ - √ √ -
    4 Manual removal of retained placenta √ √ √ √ √ √
    5 Removal of retained products√ – - - - -
    6 Vacum/ forceps ectraction √ – - - - -
    Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dari 6 Puskesmas PONED yang ada di Kabupaten Bantul hanya ada 1 Puskesmas PONED yang memenuhi kriteria PONED yaitu manyediakan 6 singnal function.Upaya peningkatan kualitas Puskesmas PONED perlu kiranya dipertimbangkan akan ketersediaan 6 signal function diatas mengingat komponen signal function yang tidak mampu dijamin oleh Puskesmas sebagian besar terletak pada ranah kompetensi dokter seperti kuret dan vakum ektraks, hal inilah yang menyebabkan bebrapa Puskesmas PONED kurang maksimal dalam kinerjanya karena tidak adanya jaminan tim kerja yang solid.
    Mengingat kegagalan PONED sebagian besar disebakan oleh lemahnya manajemen SDM maka perlu disusun satu kebijakan yang menekankan adanya jaminan tim kerja yang solid yang mencakup komponen profesi baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.
    Saran:
    Dari sisi teknis praktis perlu dilakukan evaluasi keseluruhan keterampilan profesional SDM bersama dengan kualitas peralatan. lokakarya teknis dan manajemen perlu diadakan untuk memberikan kontribusi pada akuntabilitas manajer dan staf puskesmas
    Reformasi audit maternal perinatal yang lebih bermartabat yang dilaksanakan secara lebih friendly untuk mengurangi troumatik bagi petugas
    Dokter umum yang sudah terlatih ditempatkan yang sesuai dan diperlukan dukungan secara kontinyu, bila memungkinkan ada pendampingan dari dokter spesialis atau magang di RS untuk melakukan langsung tindakan – tindakan yang seharusnya dapat mereka kerjakan di puskesmas tanpa ada rasa canggung dan tidak percaya diri. Perlu adanya SK tertulis bagi petugas tentang kewenangan mereka di puskesmas PONED dan dalam kondisi darurat Bidan diizinkan untuk menangani darurat obstetrik dan prosedur lain ketika dokter tidak tersedia

    Wassalalam
    Nur Allailiyah, S.SiT, MPH
    Bidan Puskesmas Jetis I Bantul

    • admin says:

      Yth Ibu Nur,
      Terima kasih atas masukannya yang sangat konstruktif. Memang tantangan yang secara umum dihadapi dalam pengembangan Puskesmas PONED (dan RS PONEK) adalah ketenagaan. Di samping dari sisi jumlah memang terbatas, kemudian setelah dilatih pun seringkali tenaga tersebut kemudian dipindahtugaskan ke tempat lain, sehingga ketentuan ketenagaan PONED dan PONEK yang diset sebagai 1 tim menjadi pecah. Oleh karena itu, pada setiap Pelatihan PONED, disyaratkan bahwa tenaga yang dilatih tidak boleh dipindahtugaskan ke tempat lain sekurang-kurangnya dalam jangka waktu 2 tahun. Namun bagaimanapun juga kewenangan pengelolaan ketenagaan tetap berada di tangan Pemda. Itulah yang menjadi tantangan kita bersama. Tks.

  • Ali Imron says:

    semoga dapat membantu

  • Assalamualakum,
    Dengan Hormat,

    Bersama ini saya ingin menyampaikan selamat atas diluncurkannya program EMAS ini. Semoga dapat menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian neonatal. Saya adalah mahasiswa Program Magister Sosiologi FISIP UI ingin membuat penelitian tentang Jaminan Persalinan, dan ingin membuat penelitan di salah satu provinsi yang terbanyak angka kematian ibu, yakni Banten. Oleh karena itu saya ingin mendapatkan informasi selengkapnya mengenai Jampersal dan khususnya kegitan EMAS ini. Bila ada kesempatan untuk terlibat dalam penelitian ini saya akan senang sekali bila diikutsertakan. Dan bila boleh tahu, kabupaten mana di banten yang terbanyak angka kematian ibu melahirkan? Saya ucapkan terimakasih banyak. Mohon jawabannya.

    Salam,
    Indah Meitasari (Meita)

  • nunik says:

    apakah jampersal d tangani team dokter apa buat percobaan dokter baru. bagaimana kl terjadi maal praktk… harus lapor kemana….

    • admin says:

      Yth Ibu Nunik,
      Sesuai ketentuan, pelayanan Jampersal diberikan oleh tenaga kesehatan kompeten, meliputi bidan dan dokter (dokter umum, spesialis) sesuai standar pelayanan kesehatan ibu dan anak. Tks.

  • fatima fitri says:

    Semoga program ini juga dapat dilakukan di kabupaten Luwu Sulawesi-selatan,yg mana posisi AKI dan AKB cukup menghawatirkan.

  • yudho daruno, SpOG (K) says:

    Saya usul agar ada MONEV untuk puskesmas yg sudah dilatih PONED yang diadakan secara periodik, baik kunjungan langsung atau dikumpulkan di kota Kabupaten atau Provinsi untuk berbagi pengalaman/diskusi. Selama ini yang sudah saya lakukan untuk membantu TS dokter dan bidan di daerah yaitu saya menerima konsul via HP (call/sms). Jalur komuikasi seperti ini cukup efektif terutama bagi yang bertugas dipelosok. Terima kasih

Leave a Reply