Hasil Riskesdas 2013 Terkait Kesehatan Ibu

HASIL Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2013 yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Kementerian Kesehatan telah dipublikasikan. Riset yang dilakukan di 33 provinsi dan 497 kabupaten/kota tersebut di antaranya dimaksudkan untuk memotret profil kesehatan ibu di tingkat masyarakat. Dari hasil Riskesdas 2013 dan 2010, dapat diketahui bahwa secara umum, akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan ibu dari tahun ke tahun cenderung semakin membaik.

Terkait dengan pelayanan kesehatan ibu hamil, hasil Riskesdas 2013 menunjukkan cakupan pelayanan antenatal bagi ibu hamil semakin meningkat. Hal ini memperlihatkan semakin membaiknya akses masyarakat terhadap pelayanan antenatal oleh petugas kesehatan. Cakupan pelayanan antenatal pertama kali tanpa memandang trimester kehamilan (K1 akses) meningkat dari 92,7% pada tahun 2010 menjadi 95,2% pada tahun 2013. Peningkatan akses ini juga sejalan dengan cakupan ibu hamil yang mendapat pelayanan antenatal pertama pada trimester pertama kehamilan (K1 Trimester 1), yaitu dari 72,3% pada tahun 2010 menjadi 81,3% pada tahun 2013. Demikian pula pada tahapan selanjutnya, cakupan pelayanan antenatal sekurang-kurangnya empat kali kunjungan (K4) juga meningkat dari 61,4% pada tahun 2010 menjadi 70,0% pada tahun 2013.

Potret yang cukup menggembirakan juga tampak pada profil kesehatan ibu bersalin dan nifas. Proporsi ibu yang persalinannya ditolong tenaga kesehatan meningkat dari 79,0% pada tahun 2010 menjadi 86,9% pada tahun 2013. Pada tahun 2013, sebagian besar (76,1%) persalinan juga sudah dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan dan Poskesdes/Polindes dan hanya 23,7% ibu bersalin yang masih melahirkan di rumah. Angka peningkatan yang cukup drastis terlihat pada cakupan pelayanan kesehatan ibu nifas (KF1), yaitu dari 46,8% pada tahun 2010 menjadi 81,7% pada tahun 2013.

Di samping peningkatan akses dan kualitas masyarakat yang semakin membaik, upaya peningkatan kesehatan ibu masih menghadapi berbagai tantangan. Tantangan pertama adalah bagaimana menurunkan proporsi anemia pada ibu hamil. Berdasarkan Riskesdas 2013, terdapat 37,1% ibu hamil anemia, yaitu ibu hamil dengan kadar Hb kurang dari 11,0 gram/dl, dengan proporsi yang hampir sama antara di kawasan perkotaan (36,4%) dan perdesaan (37,8%).

Tantangan kedua adalah bagaimana menurunkan proporsi malaria pada ibu hamil. Data Riskesdas 2013 menunjukkan adanya 1,9% ibu hamil yang positif terkena malaria melalui pemeriksaan rapid diagnostic test (RDT), dengan proporsi terbesar adalah malaria falsiparum. Ibu hamil yang terkena malaria berisiko lebih besar mengalami anemia dan perdarahan, serta kemungkinan melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR).

Tantangan ketiga adalah proporsi Wanita Usia Subur (WUS) dengan Kurang Energi Kronis (KEK), yaitu WUS dengan lingkar lengan atas kurang dari 23,5 cm. Berdasarkan Riskesdas 2013, terjadi peningkatan proporsi ibu hamil usia 15-19 tahun dengan KEK dari 31,3% pada tahun 2010 menjadi 38,5% pada tahun 2013. Tren peningkatan serupa juga terjadi pada WUS usia 15-19 tahun yang tidak hamil, yang proporsinya meningkat dari 30,9% pada tahun 2010 menjadi 46,6% pada tahun 2013.

Selain tantangan tersebut, tantangan yang tak kalah besar adalah bagaimana mempercepat penurunan angka kematian ibu menjadi 118 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2014 sebagaimana diamanatkan RPJMN 2010-2014 dan 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 sebagai target MDGs. Upaya peningkatan kesehatan ibu dan penurunan angka kematian ibu mustahil dapat dilakukan sendiri oleh Pemerintah, terlebih dengan berbagai keterbatasan sumber daya yang dimiliki – tenaga, sarana prasarana, dan anggaran. Oleh karena itu, mutlak diperlukan kerja sama lintas program dan lintas sektor terkait, yaitu pemerintah daerah, sektor swasta, organisasi profesi kesehatan, kalangan akademisi, serta lembaga dan organisasi kemasyarakatan baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

(wisnu)

Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH Dipilih Presiden Sebagai Menteri Kesehatan RI

Bertempat di Istana Bogor, Rabu 13 Juni 2012 Presiden Republik Indonesia Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono telah mengumumkan Menteri Kesehatan yang baru, setelah kurang lebih 1,5 bulan kosong setelah wafatnya Menteri Kesehatan dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH pada 2 Mei 2012 karena sakit. Adalah Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH yang dipilih oleh Presiden sebagai Menteri Kesehatan yang baru. Sebelum diangkat sebagai Menteri Kesehatan, dr. Nafsiah Mboi adalah Sekretaris Eksekutif Komisi Nasional Penanggulangan AIDS.

Direktur Bina Kesehatan Ibu beserta segenap staf Direktorat Bina Kesehatan Ibu mengucapkan selamat kepada dr.Nafsiah Mboi, SpA, MPH, semoga dapat menunaikan amanah yang dipercayakan dengan sebaik-baiknya.

Kelas Ibu Hamil di Puskesmas Jembatan Kembar, Lombok Barat, NTB

Untuk mempercepat pencapaian program MDGs, diperlukan upaya percepatan penurunan kematian ibu dan bayi melalui peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku ibu dan keluarga. Dengan peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku ini diharapkan kesadaran terhadap pentingnya kesehatan selama kehamilan menjadi meningkat. Program yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan untuk mendukung langkah tersebut adalah Kelas Ibu Hamil. Baca Selengkapnya »

Menteri Kesehatan RI Wafat

Innalillaahi wainna ilaihi roji’un. Telah berpulang ke Rahmatullah Menteri Kesehatan RI periode 2009 – 2014, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH, pada hari Rabu, 2 Mei 2012 pukul 11.41 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.Menkes pergi setelah berjuang melawan penyakit kanker paru yang terdeteksi pada Oktober 2010. Sejak saat itu, Menkes menjalani pengobatan baik di dalam maupun di luar negeri selama lebih kurang 1,5 tahun. Pengobatan yang dijalani antara lain radiasi lokal dan bedah beku untuk mengobati kanker secara lokal serta meningkatkan daya tahan tubuh. Selama kurun waktu pengobatan tersebut, beliau tetap semangat menjalankan tugas-tugas kementerian selaku Menteri Kesehatan. Endang Rahayu Sedyaningsih lahir di Jakarta, 1 Februari 1955. Beliau berhasil menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1979. Gelar Master on Public Health dan Doktor Kesehatan Masyarakat diperoleh di Harvard University, Amerika Serikat tahun 1992 dan 1997. Baca Selengkapnya »

Pelantikan Pejabat Eselon III dan IV di Direktorat Bina Kesehatan Ibu

Pada tanggal 20 April 2012, telah dilaksanakan Pelantikan Pejabat Eselon III dan IV di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA. Dalam pelantikan yang dipimpin oleh Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA Dr. dr. Slamet Riyadi Yuwono, DTM&H, MARS dan dihadiri Direktur Bina Kesehatan Ibu dr. Gita Maya Koemara Sakti, MHA itu, dilantik juga sejumlah pejabat di lingkungan Direktorat Bina Kesehatan Ibu yang terdiri dari Kepala Subdirektorat (pejabat eselon III) dan Kepala Seksi (pejabat eselon IV). Baca Selengkapnya »

Rumah Tunggu Kelahiran “Mitra Sehat” Kab Merangin Jambi

Untuk mencapai target MDGs pada 2015, diperlukan percepatan penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi. Di sebagian wilayah di Indonesia, kendala geografis masih dihadapi, khususnya di daerah tertinggal, terpencil, perbatasan, dan kepulauan. Hal tersebut mengakibatkan sulitnya akses dan pelayanan kesehatan ibu dan anak, termasuk rujukan bagi ibu hamil dengan risiko tinggi. Di daerah dengan akses sulit, salah satu kebijakan Kementerian Kesehatan adalah dengan mengembangkan Rumah Tunggu Kelahiran. Baca Selengkapnya »

Kelas Ibu Hamil di Jembatan Kembar, Kab Lombok Barat, NTB

Untuk mempercepat pencapaian program MDGs, diperlukan upaya percepatan penurunan kematian ibu dan bayi melalui peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku ibu dan keluarga. Dengan peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku ini diharapkan kesadaran terhadap pentingnya kesehatan selama kehamilan menjadi meningkat. Program yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan untuk mendukung langkah tersebut adalah Kelas Ibu Hamil. Baca Selengkapnya »

Dr. HA. Chalik Masulili, M.Sc Tutup Usia

Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Pada hari Ahad, 18 Maret 2012 Dr. HA. Chalik Masulili, M.Sc telah berpulang ke haribaan Ilahi. Dr. HA. Chalik Masulili, M.Sc adalah mantan Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Pembiayaan dan Pemberdayaan Masyarakat dan mantan Kepala Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Sebelum berkarier di lingkungan Kementerian Kesehatan, beliau pernah menjabat Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.

Jajaran Direktorat Bina Kesehatan Ibu dan Ditjen Bina Gizi dan KIA memiliki kenangan tersendiri terhadap beliau, karena sehari sebelum berpulang  beliau masih memberikan materi pembekalan bagi Tim Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan (PDBK) Tingkat Ditjen Bina Gizi dan KIA. Namun begitulah usia, hanya Allah sajalah yang mengetahui.

Direktur beserta segenap pejabat dan staf Direktorat Bina Kesehatan Ibu turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya Dr. HA. Chalik Masulili, M.Sc. Semoga almarhum diampuni segala dosanya, diterima seluruh amal ibadahnya, dan mendapat tempat yang mulia di sisi Allah Swt. Amiin.

Menteri Kesehatan Lantik Direktur Bina Kesehatan Ibu

Bertempat di Kementerian Kesehatan RI, pada tanggal 27 Februari 2012 Menteri Kesehatan dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH Dr. PH telah melantik sejumlah pejabat Eselon II di lingkungan Kementerian Kesehatan RI. Salah satu pejabat yang dilantik adalah dr. Gita Maya Koemara Sakti, MHA yang dipercaya menjadi Direktur Bina Kesehatan Ibu.  Dr. Gita Maya Koemara Sakti, MHA sebelumnya adalah Kepala Bagian Perencanaan Strategis, Kebijakan dan Program pada Biro Perencanaan dan Anggaran Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan.

Pada kesempatan yang sama Menteri Kesehatan juga melantik dr. HR. Dedi Kuswenda, M.Kes sebagai Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar pada Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan. Dr. HR. Dedi Kuswenda, M.Kes sebelumnya adalah Kepala Subdirektorat Bina Keluarga Berencana pada Direktorat Bina Kesehatan Ibu. Baca Selengkapnya »

Kegiatan Pengumpulan Data Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu di Kab Kepulauan Sula

Pada tanggal 19 Februari – 5 Maret 2012, Direktorat Bina Kesehatan Ibu telah melakukan kegiatan pengumpulan data kualitas pelayanan kesehatan maternal di 20 kabupaten/kota di 10 provinsi di Indonesia. Data yang dihimpun ini nantinya akan digunakan dalam assessment kualitas pelayanan kesehatan ibu di tingkat dasar dan rujukan. Dari kegiatan ini diharapkan akan diperoleh umpan balik dari rumah sakit, Puskesmas, dan bidan praktik mandiri di 20 kabupaten pada 10 provinsi terpilih, yaitu Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur. Baca Selengkapnya »